Kecantikan yang Tak Pernah Pudar

Padukan kecantikan rupa dan jiwa anda, maka anda akan mulia. Tiada cantik keduanya sungguh celaka. Selengkapnya di http://kembaraqolbu.wordpress.com.

Kedamaian Hati

Bila kedamaian tidak ditemukan dalam hati sendiri, tak perlu dicari di tempat lain. Selengkapnya di http://kembaraqolbu.wordpress.com.

Kosmetika Muslimah

Resep kecantikan alami wanita sholihah. Selengkapnya di http://kembaraqolbu.wordpress.com.

Hakikat Cinta

Cintailah Allah dengan sebenar-benarnya melebihi cinta anda kepada yang lain, niscaya anda akan dicintai Allah dan Makhluk-Nya. Selengkapnya di http://kembaraqolbu.wordpress.com.

Menutupi Aib Saudara

Barangsiapa menutupi cacat atau kekurangan orang lain, Allah akan menutupi kekurangannya di akhirat nanti. Selengkapnya di http://kembaraqolbu.wordpress.com.

Showing posts with label puasa. Show all posts
Showing posts with label puasa. Show all posts

Sunday, August 22, 2010

Ilmu Lebih Mulia Dari Pada Harta


click to create your own
Dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Membaca Al Qur’an itu amal orang-orang yang di lindungi, Shalat itu amal orang-orang yang tak berdaya, puasa itu amal orang miskin, tasbih itu amal orang perempuan, sedekah itu amal orang yang murah hati. Dan tafakkur itu amal orang yang lemah. ”Maukah Ku tunjukkan kepada kalian amal para pahlawan?” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah amal pahlawan itu?”
Beliau Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Mereka menuntut ilmu, karena ia adalah cahaya orang mukmin di dunia dan di akherat.

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda, “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya.”

Ketika kaum khawarij mendengar hadits di atas, mereka membenci Sayyidina Ali Kw dan berkumpullah sepuluh orang pemuka mereka. Mereka berkata,
“Kita akan menanyakan satu masalah dan melihat bagaimana Ali menjawabnya. Seandainya ia menjawab masing-masing dari kita dengan jawaban lain, tahulah kita bahwa ia orang alim sebagaimana di katakan oleh Nabi SAW.”

Seorang dari mereka datang kepada Sayyidina Ali dan bertanya, “Hai Ali mana yang lebih baik, ilmu atau harta?”
Sayyidina Ali Kw menjawab,”Ilmu lebih baik daripada harta.”
“Dengan dalil apa?” tanya orang itu.
“Ilmu itu warisan para Nabi dan harta itu warisan Qarun, Syaddad, Fir’aun, dan lainnya.” jawab Sayyidina Ali. Orang itupun pergi.

Datang lagi yang lainnya, lalu bertanya seperti rekannya yang pertama. Sayyidina Ali Kw menjawab,”Ilmu lebih baik daripada harta.”
“Dengan dalil apa?” tanya orang itu.
Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu menjagamu sedang engkau menjaga harta.” Kemudian dia juga pergi.

Datang lagi orang yang ketiga, sambil bertanya apa yang di tanyakan teman sebelumnya. Sayyidina Ali Kw menjawab,”Ilmu lebih baik daripada harta.” “Dengan dalil apa?” tanya orang itu.
Sayyidina Ali menjawab, “Pemilik harta mempunyai banyak musuh dan pemilik ilmu mempunyai banyak teman.” Orang ketiga pergi.

Datang lagi orang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”
Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?”
Sayyidina Ali menjawab, “Apabila kau belanjakan hartamu, ia akan berkurang dan jika kau amalkan ilmu mu ia akan bertambah.” Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi orang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”
Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?”
Sayyidina Ali menjawab,”Pemilik harta bisa di panggil si pelit dan menjadi hina, sedangkan pemilik ilmu di panggil dengan sebutan agung dan mulia.” Orang tersebut kemudian pergi.

Datang lagi orang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”
Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?”
Sayyidina Ali menjawab, “Pemilik harta akan di hisab pada hari kiamat, sedangkan pemilik ilmu akan memberi syafaat pada hari kiamat.”

Datang lagi orang yang lainnya, lalu bertanya sebagaimana teman-teman sebelumnya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”
Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?”
Sayyidina Ali menjawab,”Harta itu makin lama di diamkan makin bertambah usang, sedangkan ilmu tidak bisa lapuk dan usang.”

Datang lagi orang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”
Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?”
Sayyidina Ali menjawab,”Harta bisa membuat hati menjadi keras, sedang ilmu itu menerangi hati.”

Datang lagi orang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”
Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?”
Sayyidina Ali menjawab,”Pemilik harta di katakan sebagai pemilik dengan sebab harta, sedangkan orang yang berilmu mengaku sebagai Hamba Allah.”

“Andaikata mereka bertanya tentang ini, niscaya akan ku jawab dengan jawaban yang lain selama aku masih hidup.” Sayyidina Ali berujar.

Kemudian datanglah semua orang yang mengajukan pertanyaan tadi lalu mereka menyerah dan mengakui kealiman Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib Karramallahu Wajhah..

Sumber Kitab Mawa’idul Usfuriyah. Karya Asy Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al Usfuri.

READ MORE - Ilmu Lebih Mulia Dari Pada Harta

Rumah Adalah Nikmat


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Dan sesungguhnya Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal." (An-Nahl : 80)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan kesempurnaan nikmatNya atas hambaNya, dengan apa yang Dia jadikan bagi mereka rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka. Mereka kembali kepadanya, berlindung dan memanfaatkannya dengan berbagai macam manfaat"
Rumah Adalah Nikmat
Banyak sekali kegunaan rumah bagi seseorang. Ia adalah tempat makan, tidur, istirahat, dan berkumpul dengan keluarga, isteri dan anak-anak, juga tempat melakukan kegiatan yang paling pribadi dari masing-masing anggota keluarga. Allah berfirman :
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu". (Al-Ahzab :33)
Jika kita renungkan keadaan orang-orang yang tidak memiliki rumah, yakni orang-orang yang hidup di pengasingan, di emper-emper jalan serta para pengungsi yang terusir di perkemahan-perkemahan sementara, niscaya kita memahami benar nikmatnya ada di rumah.
Tentu kita akan terenyuh dan haru mendengar orang misalnya dia mengatakan : "Saya tidak punya tempat tinggal tetap, terkadang saya tidur di rumah si Fulan, terkadang di kedai kopi, kebun atau di pantai, lemari bajuku ada di dalam mobil."Dengan demikian kitapun akan memahami makna keberserakan karena tidak memiliki tempat tinggal atau rumah.
Ketika Allah menyiksa orang-orang Yahudi Bani Nadhir, Allah mengambil dari mereka nikmat rumah ini, Allah mengusir mereka dari kampung halaman mereka. Allah berfirman :
"Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung pada saat pengusiran pertama kali."(Al-Hasyr:2)
Kemudian firmanNya :
"Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan". (Al-Hasyr : 2)

Yang Mendorong Seorang Muslim Memperhatikan ISHLAH (Perbaikan) Rumahnya
1. Menjaga diri dan keluarga dari api Neraka jahannam dan selamat dari siksa yang menyala-nyala.
Allah berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan".(At-Tahrim : 6)

2. Besarnya tanggung jawab yang dibebankan terhadap pemimpin rumah di hadapan Allah pada hari perhitungan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Sesungguhnya Allah Ta'ala akan meminta pertanggung jawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaga kepemimpinannya atau melalaikannya, sehingga seorang laki-laki ditanya tentang anggota keluarganya".
Hadits Hasan, diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Isyratun Nisaa', hadits no 292 dan Ibnu Hibban dari Anas dalam Shahihul Jami' , no.1775; As-Silsilah Ash- Shahihah no.1636.
Rumah adalah tempat menjaga diri dan keselamatan dari berbagai kejahatan dan menolak dari bahaya manusia lain; rumah adalah tempat perlindungan ketika terjadi fitnah.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Beruntunglah orang yang menguasai lisannya dan lapang rumahnya serta menangis atas kesalahannya."
Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jamul Ausath dari Tsauban dan terdapat dalam Shahihul Jami', no.3824.
Dan beliau bersabda :

"Lima hal yang barangsiapa mengerjakan salah satu daripadanya maka ia akan mendapat jaminan dari Allah. Yaitu : orang yang menjenguk orang sakit, orang yang pergi berperang, atau orang yang masuk kepada pemimpinnya dengan maksud menegurnya atau mengingatkannya, atau ia duduk di rumahnya sehingga orang-orang selamat dari (ganggguan)nya dan ia selamat dari (gangguan) mereka.
Hadits riwayat Ahmad (5/241)


"Keselamatan seseorang dalam fitnah yaitu ia senantiasa mendiami rumahnya."
Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ad-Dailami dalam Musnadul Firdaus dari Abu Musa; terdapat dalam Shahihul jami' no.3543, dan lafazh dalam Sunan oleh Ibnu Abi 'Ashim, no.1021. Dalam takhrij ia mengatakan : "Hadits ini shahih ".
Orang muslim akan merasakan faedah ini ketika ia dalam keadaan terasing, saat ia tidak bisa mengubah kemungkaran-kemungkaran yang ada, maka dia memiliki tempat berlindung ketika kembali ke rumahnya. Rumah itu akan menjaga dirinya dari perbuatan dan pandangan yang dilarang, menjaga isterinya dari tabarruj (pamer kecantikan dan hiasan) serta menjaga anak-anaknya dari teman-teman yang jahat.

1. Sesungguhnya sebagian besar manusia menggunakan waktunya di dalam rumah, terutama pada musim panas dan dingin yang menyengat, pada musim hujan, permulaan dan akhir siang, ketika selesai dari kerja atau sekolah, karena waktu-waktu tersebut semestinya digunakan dalam ketaatan, jika tidak tentu akan habis untuk melakukan hal-hal yang dilarang.

2. Ini yang terpenting, bahwa perhatian terhadap rumah merupakan sarana yang paling besar untuk membangun masyarakat muslim. Karena sebuah masyarakat ini terdiri dari rumah-rumah. Rumah-rumah adalah unsur dasar suatu masyarakat. Rumah-rumah itu membentuk suatu perkampungan dan perkampungan-perkampungan itu adalah masyarakat. Jika unsur dasarnya baik, niscaya akan kuatlah masyarakat kita dengan hukum-hukum Allah, tegar dalam menghadapi musuh-musuh Allah, memancarkan kebaikan dan tidak menimbulkan kejahatan.
Dari sebuah rumah yang Islami akan lahir penopang-penopang perbaikan bagi masyarakat, berupa da'i-da'i teladan, penuntut ilmu, mujahid yang sesungguhnya, isteri shalihah, ibu pendidik dari unsur pembangun kebaikan lainnya.
Jika sedemikian penting problem tersebut, sementara rumah-rumah kita penuh dengan kemungkaran dan kelalaian, meremehkan dan melampaui batas, maka dari sini timbul tanda tanya besar:

APA SARANA-SARANA UNTUK MEMPERBAIKI RUMAH?
Kepada para pembaca, penulis suguhkan jawabannya, nasehat-nasehat dalam persoalan ini, mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada kita dengannya, dan mudah-mudahan Allah mengarahkan semangat putra-putri Islam untuk membawa risalah (tugas) perbaikan rumah Islami dari awal.

Nasehat ini dimaksudkan untuk dua hal, mendapatkan maslahat (kebaikan) yakni dengan amar ma'ruf atau mencegah kerusakan yakni menghilangkan kemungkaran. Semoga bermanfaat. (Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid www.alsofwah.or.id)







READ MORE - Rumah Adalah Nikmat

Search This Blog

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites